Dr. Cipto Mangunkusumo: Sang “Murid Berbakat” Penentang Kolonial
Cipto Mangunkusumo memang sarjana kedokteran, namun saat kuliah di Stovia, dikenal sebagai mahasiswa yang "beda", pemberani dan penentang diskriminasi, feodalisme, dan kolonialisme.
Bersekolah di STOVIA bukan sekadar mengejar gelar dokter bagi Cipto Mangunkusumo. Di sana, ia justru menemukan “penyakit” yang lebih berbahaya dari wabah mana pun: diskriminasi dan feodalisme. Inilah kisah sang pemberontak eksentrik yang melawan dengan pena dan keberanian.
Di lorong-lorong STOVIA, para pengajar Belanda menjulukinya “Een begaafd leerling”—si murid yang berbakat. Cipto memang cerdas, jujur, dan berpikiran tajam. Namun, ada satu hal yang membuatnya berbeda dari mahasiswa lainnya: ia tidak bisa diam melihat ketidakadilan.
Lahir di Pecangakan, Jepara, pada 4 Maret 1886, Cipto tumbuh dari keluarga pendidik yang sederhana. Meski bukan dari kalangan priyayi tinggi, kecerdasannya membawa Cipto melampaui batas sosial masanya. Namun, alih-alih menikmati kenyamanan sebagai calon dokter, Cipto justru merasa asing di lingkungannya sendiri.
Saat teman-temannya sibuk berpesta atau bermain, Cipto lebih memilih tenggelam dalam buku, menghadiri ceramah ilmiah, atau mengasah strategi di papan catur. Baginya, STOVIA adalah kawah candradimuka untuk menemukan jati diri yang merdeka.
Eksentrik, Bepedang Pena
Cipto bukan tipe pejuang yang “manis”. Ia dikenal eksentrik. Di saat standar formalitas kolonial menuntut kepatuhan, ia justru sering tampil mencolok dengan balutan surjan lurik dan aroma rokok kemenyan yang khas.
Salah satu yang paling digugatnya adalah aturan berpakaian. Saat itu, mahasiswa Jawa dan Sumatera yang bukan Kristen diwajibkan memakai pakaian tradisional. Bagi Cipto, ini bukan soal melestarikan budaya, melainkan cara kolonial melestarikan sekat feodalisme agar kaum pribumi tetap merasa “di bawah”. “Peraturan berpakaian di STOVIA adalah wujud politik kolonial yang arogan!” tegasnya kala itu.
Menarik, bagaimana Cipto menunjukkan kegelisahan dan “gugatan”-nya. Ia tumpahkan dalam tulisan. Melalui harian De Locomotief, ia mulai menyerang akar penderitaan rakyat: kolonialisme dan feodalisme. Ia menguliti praktik diskriminasi ras, mulai dari ketimpangan gaji antara dokter Eropa dan pribumi, hingga terbatasnya akses pendidikan bagi rakyat kecil.
Kala itu, tulisannya begitu pedas hingga membuat penguasa gerah. Cipto pun diberi peringatan keras. Namun, inilah bukti integritasnya: daripada membungkam nuraninya demi jabatan, Cipto memilih keluar dari dinas pemerintah. Ia rela membayar ganti rugi ikatan dinas demi satu hal yang tak bisa dibeli: kebebasan berpendapat.
Nyali di “Sociteit”
Salah satu fragmen paling ikonik dari keberaniannya terjadi saat ia mendatangi sociteit (klub sosial eksklusif) yang terlarang bagi warga pribumi. Dengan jas lurik dan kain batik, Cipto melenggang masuk ke tengah kerumunan orang Eropa. Ia duduk santai sambil menjulurkan kaki, sebuah gestur “penghinaan” terhadap tata krama kolonial saat itu.
Ketika seorang penjaga (opas) mencoba mengusirnya, Cipto tidak gentar. Sebaliknya, ia justru memarahi sang penjaga dan orang-orang di sana menggunakan bahasa Belanda yang begitu fasih dan berwibawa. Hasilnya? Para meneer dan mevrouw di sana hanya bisa terperangah. Cipto telah meruntuhkan tembok superioritas mereka hanya dengan nyali dan kecerdasan. (Wikipedia dan berbagai sumber)
