Published 23 Jan 2026, 10:03 AM

Prof. Slamet Iman Santoso: Bapak Psikologi yang Jujur, Tegas, dan Konsisten 

Prof. Slamet Imam Santoso, Bapak Psikologi Indonesia

Profesor Slamet Iman Santoso adalah perintis dan pendiri Fakultas Psikologi Universitas Indonesia sekaligus perintis studi psikologi di Tanah Air. Prinsip hidupnya yang jujur, tegas dan konsisten tak berubah sampai akhir hayatnya. 

Profesor Slamet Iman Santoso adalah perintis dan pendiri Fakultas Psikologi Universitas Indonesia sekaligus perintis studi psikologi di Tanah Air. Prinsip hidupnya yang jujur, tegas dan konsisten tak berubah sampai akhir hayatnya. 

Memutar kembali kenangan lama di tahun 1987-an, saat mengunjungi rumah alm. Prof. Dr. R. Slamet Iman Santoso di Jl. Cimandiri 26, Jakarta Pusat. Di rumah sederhana bagi ukuran seorang mantan pejabat pemerintahan dan juga rektor Universitas Indonesia, Prof. Slamet Iman Santoso menghabiskan waktunya dengan membaca buku. Kesenangannya membaca dapat dilihat dari rak buku yang penuh dengan beragam judul buku.

Sosok Prof. Slamet Iman Santoso mungkin tidak dikenal oleh generasi milenial termasuk siswa SMA Tanah Air. Beliau adalah profesor emeritus Fakultas Psikologi UI yang tidak saja perintis dan pendiri Fakultas Psikologi UI tetapi juga perintis studi psikologi di Indonesia. Patutlah dia digelari Bapak Psikologi Indonesia. Pada usia 97 tahun atau tepatnya, Selasa 9 November 2004, Prof. Slamet berpulang ke sang khalik.

Motivasi mantan Direktur Rumah Sakit Jiwa Gloegoer, Medan (1937-1938), ini merintis dan mendirikan fakultas psikologi, karena sebagai psikiater, beliau menemukan banyak masalah yang tidak bisa dipecahkan oleh psikiater. Sebagai seorang ahli psikologi, pada tahun 1961, pria yang senang berpakaian putih-putih ini memimpin sekitar 50 mahasiswa Fakultas Psikologi UI, mengunjungi penduduk yang terkena gusuran pembuatan Istana Olah- raga Senayan dan dipindahkan ke daerah Tebet dan Penjaringan. Mereka berdialog dengan penduduk tergusur itu. Kunjungan ini, menjadi awal pogram mahasiswa turun ke lapangan (masyarakat). Bidang studi psikologi pun makin menarik perhatian banyak orang. Masa-masa psikologi mengalami kesulitan (saat psikologi hanyalah sebuah jurusan dalam lingkungan FKUI), sepertinya sudah terlupakan.

Di almamaternya, Universitas Indonesia, Prof. Slamet Iman Santoso pernah menduduki posisi Pembantu Rektor I ketika Sjarif Thajeb dan Sumantri Brodjonegoro menjabat sebagai Rektor UI. Menyusul wafatnya Sumantri Brodjonegoro pada tahun 1973, Slamet Iman Santoso ditunjuk menjadi Pejabat Rektor UI. Ia mengakhiri jabatannya pada tahun 1974 dan posisinya digantikan oleh Mahar Mardjono.

Merintis Sistem Seleksi Mahasiswa

Psikiater kelahiran Wonosobo, Jawa Tengah, 7 September 1907, ini juga ikut mendirikan beberapa universitas. Sebut saja Universitas Andalas, Universitas Sriwijaya, Universitas (UNJ) Unoversitas Airlangga dan Universitas Hasanuddin. Prof. Slamet Iman Santoso mempunyai andil besar dalam merintis program penerimaan mahasiswa melalui UMPTN.

Ketika itu (1979-1980) beliau menjadi Ketua Komisi Pembaruan Pendidikan Nasional (KPPN) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Saat itu terjadi booming lulusan SMA yang ingin masuk Perguruan Tinggi Negeri. Sebagai contoh, UI yang kapasitasnya sekitar 800 mahasiswa tapi jumlah pendaftar 4000 orang. Melalui komite yang diketuainya dibentuklah satu system penerimaan calon mahasiswa yang sejak 1979 sudah berlangsung dengan nama yang sekian kali berubah mulai dari Skalu, Proyek Perintis, Sipenmaru (Sistim Penerimaan Mahasiswa Baru) dan UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri).

Guru para Tokoh Pendidikan 

Beliau adalah orang pertama mengusulkan perlunya satu standar bagi semua jenjang pendidikan di Indonesia. Usul yang dia lontarkan sepanjang tahun 1979-1981 ini membuat heboh dunia pendidikan. Termasuk, berani mengkritik keras minimnya gaji guru yang dia sebut dapat merusak dunia pendidikan. Dia membandingkan gaji guru zaman Belanda yang dua kali lipat daripada gaji dokter. Sehingga guru tak perlu mencari tambahan dan dunia pendidikan tidak dicampurbaurkan dengan bisnis. 

Sepanjang perjalanan pengabdiannya untuk bangsa dan negara, sudah banyak penghargaan yang diterimanya, di antaranya Bintang Mahaputra Utama III (1973), Tokoh Pendidikan Nasional dari IKIP Jakarta (UNJ) pada tahun 1978, serta penghargaan Wahidin Sodiro Hoesodo dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pada tahun 1989.

Sudah sangat banyak tokoh Pendidikan menjadi muridnya baik di Fakultas Kedokteran dan Fakultas Psikologi, UI. Di antaranya, Conny Semiawan, Fuad Hassan, Sujudi, Wardiman Djojonegoro, Mahar Mardjono dan Saparinah Sadli. Para mantan mahasiswanya ini sangat menghormati dan mengagumi gurunya ini. Mereka mengenangnya sebagai guru yang sangat akrab dan suka menularkan pengalaman.

Sumber: Disarikan dari Majalah SMA Edisi 17

Leave a comment