Published 19 Jan 2026, 09:37 PM

Dialog Indonesia Bermutu: “Menemukan Akar Persoalan Pendidikan Kita”

Dialog Indonesia bermutu

Suasana dialog tim Indonesia Bermutu dari kiri ke kanan: Afrizal Sinaro, Zulfikri Anas, Heri Kurniawan dan Jaka Warsihna.

Apa yang salah dengan pendidikan Kita?”tentunya ini bukan sekadar menunjuk apa yang salah, apalagi menyalahkan yang benar, atau membenarkan yang salah.  juga bukan sekadar menilai. Tapi, kita harus menumbuhkan! Semua persoalan, kegagalan, keberhasilan, kebaikan dan kebahagiaan pasti ada akarnya. Akar mana yang akan kita tumbuhkan?, Untuk menjawabnya, kita bebaskan diri kita dari keberpihakkan kepada golongan tertentu, berpihak kepada kebenaran adalah jalan yang paling bijak di saat-saat semua pihak terjebak pada situasi saling menyalahkan pihak lain, atau menyalahkan keadaan tanpa berupaya untuk menumbuhkan apa yang seharusnya ditumbuhkan.

Tanpa bermaksud untuk menyalah-nyalahkan apalagi menjatuhkan pihak tertentu, Indonesia Bermutu mengawali hari-hari pertama tahun 2026 ini dengan sebuah dialog “ada apa dengan pendidikan kita?”

Belakangan ini dunia pendidikan kembali bahan perbincangan di ruang public. Salah satu pemicunya hasil skor rata-rata TKA Matematika dan Bahasa Indonesia rendah di semua jenjang!. “Ini bukan sekadar soal skor, tapi menyangkut kemampuan siswa yang sebenarnya. Apa yang ada dalam diri anak-anak kita setelah detik demi detik waktu mereka habiskan di ruang dan meja belajar?. Apa yang mereka dapatkan hari ini tidak terlepas dari apa yang mereka peroleh dari hari-hari ke hari bersama guru, orang tua, dan orang-orang dewasa lain yang berada di sekitar mereka.

Hakikatnya “semua anak manusia terlahir memiliki keunggulan yang tidak dapat dibanding-bandingkan, dan kehadiran setiap individu pada posisi yang tak tergantikan, Allah tidak mengenal produk gagal, dan semua sudah dalam perhitungan yang sangat teliti, sampai kepada hal yang sekecil-kecilnya, dan tidak ada satupun peristiwa sekecil apapun yang keluar dari ketentuan-Nya, bahkan daun yang jatuhpun juga mengikuti sunnatullah.  Lalu, mengapa di masa-masa akhir perjalanan sekolah, mereka justeru terkulai tak berdaya?. Kemampuan logika, nalar dan literasi mereka anjlok!. 

Ketika mereka mengalami kondisi yang demikian, ancamannya adalah kegagalan dalam menghadapi segala persoalan hidup, ketidakmampuan megantisipasi, menyelesaikan atau beradaptasi dengan berbagai persoalan hidup yang bukan saja penuh ketidakpastian, tetapi juga berubah dengan sangat cepat berakibat jangka panjang terhadap kehidupan anak di masa datang.

“Tugas dunia pendidikan adalah menemukan keunggulan setiap anak’, frasa ini muncul serentak dari empat orang peneliti Indonesia Bermutu (IB) ketika mengawali dialog mengakhiri tahun 2025 dan menyambut tahun 2026, di Jakarta, kamis 08/01 kemarin.

Hadir dalam diskusi, ketua umum IB Jaka Warsihna yang juga pakar teknologi pembelajaran, Sekretaris Umum IB, Heri Kurniawan, peneliti dan dosen FST Universitas terbuka, Zulfikri Anas yang berpengalaman dalam merancang kurikulum di jenjang PAUDASMEN, dan Afrizal Sinaro (tokoh pendidikan Islam dan pimpinan Lembaga Pendidikan Al Iman, Citayam Bogor, dan berpengalaman di dunia penerbitan). Dialog ini berangkat dari satu pertanyaan sederhana namun menggelitik. 

Jaka Warsihna mengawali diskusi: “Jika instrumen pengukuran yang digunakan valid dan reliabel, lalu hasilnya rendah, kita tidak bisa terus menyalahkan alat tes,  Itu berarti anak-anak memang tidak sampai pada kompetensi yang seharusnya. Dan jika anak tidak sampai, berarti mereka tidak benar-benar belajar. Jika mereka tidak belajar, berarti ada hak belajar yang tidak terpenuhi. Artinya, proses dan pengalaman belajar setiap anak, serta seperti apa bahan ajar yang digunakan, itu yang perlu kita telusuri sampai ke akar-akarnya”, tegasnya.

“Bagi Jaka, persoalan ini bukan soal anak bodoh atau malas, melainkan soal bagaimana pengalaman belajar dan bahan ajar dirancang. “Kita sering bicara inovasi, teknologi, digitalisasi, tapi bahan ajar kita miskin pengalaman. Anak tidak diajak melihat, menyentuh, merasakan, mencoba. Belajar terlalu verbal, terlalu abstrak. Padahal otak anak bekerja lewat pengalaman konkret”, ungkapnya.

Sejalan dengan itu, Zulfikri Anas, menegaskan bahwa 

“Masalah utama kita adalah, anak-anak kehilangan ruang Prakarsa, mereka seakan berada di satu long yang sempit, lalu mereka dipacu di Lorong yang sempit itu, siapa yang paling dulu melewati Lorong sempit itu, dialah sang juara, merekalah yang difasilitasi. Ini bukan sekedar kehilangan ruang, tetapi menjadi mereka sebagai robot-robot yang berpikiran seraga. Ketika dalam pikiran kita ada “kotak” dalam.rancangan kurikulum, maka semua anak harus berpkir kotak, jika ada yang berpikir “lingkaran” maka lingkaran itu dipotong, lalu dipaksa jadi kotak. “nah, kalau begitu, pantaskah kita mengakmbinghitamkan guru?, jika satu dua anak yang mengalami hal seperti itu, mungkin tepat jika kita menyalahkan guru, nah jika semua anak mengalami hal yang sama padahal lingkungan dan karakteristiknya beragam, maka kita pantas mempertanyakan sistem apa yang dibangun oleh dunia pendidikan kita. Sistem yang membuat anak-anak mengambang, tercabut dari akar kemanusiaanya, kita semua bertanggung jawab. Kurang patuh apa guru kita pada kurikulum, dan kurang apa pelatihan yang diikuti, Saking patuh dan taatnya mereka kurikulum diperlakukan seperti kitab suci administratif, bukan sebagai panduan pedagogis yang perlu diadaptasikan dengan situasi yang beragam. 

Zulfikri menambahkan: “Energi guru habis di administrasi, format, laporan, dokumen, bukan pada murid. Kita bicara Merdeka Belajar, tapi praktiknya guru tidak merdeka berpikir. Prakarsa mati sebelum tumbuh.”

Menurutnya, ketika prakarsa guru mati, maka daya hidup belajar siswa ikut mati. Kita bicara pembelajaran mendalam dan bermakna, tapi proses yang terjadi justeru pendangkalan dan penyempitan makna belajar.

Belajar itu fitrah dari Ilahi, jika tiba-tiba mereka malas belajar, berarti mereka telah keluar dari fitrah, pasti telah terjadi sesuatu yang fatal dalam proses pembelajaran, dan bagi dunia pendidikan seharusnya anak malas dicari akar persoalannya, bantu mereka menemukan diri mereka kembali sehingga fitrah belajar itu kembali beraksi.

Sebagai pakar Statistik, Heri Kurniawan menegaskan bahwa “ini bukan kebetulan. Ini sebuah pola.

Kalau rendahnya literasi dan numerasi terjadi secara masif, lintas wilayah, lintas sekolah, itu bukan anomali. Jika itu pola, setiap pola selalu punya sebab struktural. “Jangan cepat menyimpulkan anak tidak mampu. Kita perlu bertanya: apakah mereka pernah diberi pengalaman belajar yang menantang nalar? Apakah mereka dilatih mengukur, membandingkan, mengelompokkan, membaca pola, membuat estimasi?”

Dalam pandangan Heri, numerasi bukan sekadar hitung, tapi cara berpikir tentang dunia, tentang alam, tentang kehidupan, dan itu adalah jalan untuk menemukan makna apa yang dipelajari. Bila pembelajaran berlangsung secara mendalam dan bermakna, maka anak-anak akan menemukan bahwa Matematika itu ilmu tentang keseimbangan. Kalau ini tidak tertanam sejak dini, jangan heran jika nalar timpang. “Allah berkali-kali mengingatkan, jangan sekali-kali engkau merusak keseimbangan itu”, tegasnya.

“Ini bukan hanya krisis akademik, ini krisis makna”, ungkap ”Afrizal Sinaro. Afrizal mengingatkan bahwa dunia pendidikan tidak dapat dilepaskan dari wilayah nilai-nilai dan  spiritualitas. 

“Dalam pandangan Islam, manusia diciptakan sebagai makhluk berpikir. Bahkan dalam kandungan sudah belajar. Maka kalau anak tidak mau belajar, dapat dipastikan bukan anaknya yang salah, tapi lingkungannya yang mematikan fitrah.” 

“Allah sudah menyediakan seluruh alam sebagai fasilitas belajar. ‘Aku hamparkan tanda-tanda-Ku di segenap penjuru dan dalam dirimu.’ Maka jika kita menyalahkan fasilitas, itu ironi. Jika kita bicara fisilitas dalam belajar, bukan berarti kita bicara tentang kemewahan yang memanjakan, tapi media-media kreatif yang memici adrenalin setiap anak untuk menuntaskan rasa ingin tahu mereka. Rasa ingin tahu secara mendalam itu fitrah Ilahi yang tidak bisa diingkari. Menurut Afrizal, Fasilitas mewah yang memanjakan bisa menyebabkan kontraproduktif dalam belajar, kondisi yang penuh keterbatasan seringkali memicu semangat untuk terus menemukan sesuatu agar dapat keluar dari persoalan, dan ini termasuk salah satu hakikat belajar.

“Kemewahan bisa melahirkan ketergantungan, ini bisa berakibat ketangguhan anak menurun, ketika anak keluar ke dunia nyata yang keras, terbatas, penuh ketidakpastian, berubah dengan cepat mereka justeru gagap dan  ia mudah tumbang. Ia tidak terlatih hidup dalam keterbatasan.”

Nah, jika  bukan anak, bukan guru, bukan fasilitas, lalu siapa? Kurikulum? LPTK? Birokrat?, akademisi?orang tua? Masyarakat?

Jaka mengakhiri dialog “Ini bukan soal siapa, tapi bagaimana, yaitu bagaimana kita memandang belajar. Bagaimana kita merancang pengalaman belajar dan bahan ajar. Bagaimana kita mendekatkan belajar itu ke dalam diri setiap anak.

Terakhir, para peneliti IB ini menutup dialog:  “kalau sistem mengukur hafalan, maka hafalan yang dilatihkan. Kalau sistem menghargai nalar, maka nalar yang tumbuh. Dan kalau sistem tidak menghadirkan makna, anak kehilangan alasan untuk belajar.” Keempatnya sepakat: perbaikan harus dimulai dari pengalaman belajar yang nyata, konkret, dan bermakna. “Libatkan semua indera. Biarkan anak mengukur dengan tangannya, membandingkan dengan matanya, merasakan dengan tubuhnya. Berikan tantangan nyata, hadir berbagai persoalan nyata ke dalam ruang belajar, Jangan setrilkan anak  anak dari “kesulitan” karena esulitan adalah guru terbaik.

Inisiatif Strategis Indonesia Bermutu: Indonesia Bermutu lahir dari murid bermutu, murid bermutu lahir dari pendidikan bermutu. Pendidikan bermutu lahir dari sekolah bermutu. Sekolah bermutu lahir dari guru bermutu. Dan guru bermutu lahir dari keyakinan bahwa setiap anak membawa amanah dan potensi, semua anak unggul tanpa kecuali.

Leave a comment