Published 28 Jan 2026, 01:08 PM

Tegas atau Keras di Ruang Kelas, Pilihan Ada di Tangan Kita

Menjadi bagian dari Murid: Kedekatan emosional dan hubungan yang baik dengan murid, akan memudahkan guru membangun suasana kelas yang kondusif

Dalam dinamika ruang kelas, seorang guru seringkali berdiri di persimpangan jalan: antara menjadi sosok yang disegani atau sosok yang ditakuti. Banyak pendidik terjebak dalam mitos bahwa “semakin keras suara, semakin patuh siswa.” Padahal, ada jurang perbedaan yang sangat dalam antara sikap tegas dan sikap keras. Memahami perbedaan ini adalah kunci menciptakan ekosistem belajar yang memanusiakan manusia.

Tegas dan Keras: Garis Tipis yang Menentukan

Kita maklumi bersama bahwa sikap tegas adalah kemampuan guru untuk mempertahankan standar perilaku dan aturan secara konsisten tanpa merendahkan martabat murid. Oleh karena itu, ia berakar pada otoritas yang sehat. Sebaliknya, sikap keras sering kali bersumber dari ego atau frustrasi. Yaitu ketika kontrol dilakukan melalui ancaman, nada suara agresif, dan tindakan lain yang bersifat menghukum (punitive). Jika ini dilakukan alih-alih mendidik, justru akan kontraproduktif bagi sang guru.

Ketegasan berfokus pada perbaikan perilaku, sedangkan kekerasan berfokus pada pemberian rasa takut. Ketika seorang guru bersikap tegas, ia sejatinya tengah memberikan struktur. Namun, saat ia bersikap keras, ia tengah menciptakan “tembok”. Yang pada akhirnya menjadi hubungan dengan muridnya kaku dan bahkan bisa menjadi membeku. 

Menerapkan disiplin di ruang kelas memang membutuhkan ketegasan. Apalagi bagi teman-teman guru di jenjang sekolah dasar. Secara positif, ketegasan membantu murid SD—yang secara kognitif sedang membangun konsep diri—untuk memahami batasan (boundaries). Beragam penelitian dalam psikologi perkembangan menunjukkan bahwa anak-anak merasa lebih aman ketika mereka tahu apa yang diharapkan dari mereka. Ini yang penting jadi perhatian kita. 

Penting, Cara Kita Mengelola Kelas

Sebelum kita melihat lebih jauh ke dalam ruang kelas, baiknya penting kita memahami temuan psikolog perkembangan Diana Baumrind. Dalam studinya, ia membedakan antara sikap authoritative (tegas, jelas, namun responsif) dengan authoritarian (keras, menuntut, namun dingin). 

Baumrind menemukan bahwa sikap tegas yang tidak disertai kehangatan emosional justru memutus sirkuit belajar anak. Secara neurosains, tekanan yang berlebihan memicu stres toksik yang mengaktifkan amigdala—pusat rasa takut di otak—sehingga melumpuhkan kemampuan murid untuk berpikir jernih dan kreatif.

Berangkat dari landasan tersebut, jelas bahwa ketika ketegasan berubah menjadi sikap keras yang destruktif, dampaknya akan sangat terasa pada perkembangan murid, yakni:

  1. Matinya Motivasi Murid: Murid belajar bukan karena rasa ingin tahu, melainkan karena mekanisme pertahanan diri untuk menghindari hukuman.
  2. Runtuhnya Kepercayaan: Hubungan guru-murid yang retak akibat perlakuan keras membuat pesan moral yang disampaikan guru tidak akan pernah sampai ke hati murid.
  3. Lingkaran Agresi: Murid yang dididik dengan kekerasan verbal atau sikap keras, cenderung meniru perilaku tersebut dalam interaksi dengan teman sebaya (bullying), karena mereka menganggap “kekuasaan” adalah cara untuk menyelesaikan masalah.

Mendidik, Proses “Menyentuh jiwa”

Perlu pembiasaan yang membutuhkan waktu memang. Namun itulah sejatinya upaya yang harus dilakukan seorang guru. Mendidik harus mengedepankan hati, rasa kasih sayang. Argumentasi ini sejalan dengan wejangan para tokoh pendidikan kita. Ki Hadjar Dewantara melalui filosofi Ing Ngarsa Sung Tuladha, menekankan bahwa ketegasan harus dibalut kasih sayang agar murid merasa “diarahkan”, bukan “ditekan”.

Senada dengan itu, KH. Hasyim Asy’ari dalam kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim menegaskan bahwa guru adalah teladan etika. Ketegasan harus bersanding dengan keadilan. Begitu pula Al-Ghazali dan HAMKA yang menempatkan kelembutan sebagai fondasi utama. Bagi mereka, mendidik adalah proses “menyentuh jiwa”, dan jiwa tidak akan terbuka jika dipukul dengan kata-kata kasar.

Sebagai alternatif, guru dapat menerapkan Disiplin Positif. Alih-alih berkata, “Kalian semua tidak mendengarkan! Diam sekarang juga!” (Keras), guru bisa menggunakan komunikasi asertif: “Ibu/bapak melihat masih ada yang berbicara. Ibu/bapak akan menunggu kelas tenang sebelum kita melanjutkan materi ini” (Tegas).

Langkah ini tentu tidak bisa berdiri sendiri. Perlu ada sinergi: pertama peran orang tua, rumah dan sekolah harus memiliki “bahasa disiplin” yang sama. Jika di sekolah guru tegas namun di rumah orang tua permisif (atau sebaliknya), anak akan mengalami disonansi karakter; kedua, Kebijakan Sekolah: Sekolah harus bergeser dari sistem poin hukuman menuju sistem apresiasi positif dan pemulihan (restorative), yakni kesalahan murid dilihat sebagai kesempatan untuk belajar, bukan ajang penghakiman.Menjadi guru yang tegas bukan berarti menjadi “petugas keamanan” di dalam kelas, melainkan menjadi “kompas”. Ketegasan yang lahir dari kasih sayang yang dihadirkan akan menumbuhkan rasa hormat yang tulus, bukan kepatuhan palsu karena rasa takut.  Bukankah suara yang paling keras belum tentu membawa pesan yang paling dalam? 

Leave a comment