Anak SD Menolak Sekolah karena Dipanggil “Bodoh”: Webinar PGSD UT Soroti Darurat Kekerasan Tersembunyi di Sekolah Dasar
Kegiatan webinar Universitas Terbuka
NASIONAL – Seorang siswa sekolah dasar menolak masuk kelas. Bukan karena sakit. Bukan karena malas belajar. Ia lelah dipanggil “bodoh” setiap hari. Ironisnya, ejekan itu dianggap sekadar bercanda.
Fenomena inilah yang menjadi sorotan dalam Webinar Nasional PGSD FKIP Universitas Terbuka, Rabu (11/2/2026).
Kekerasan di Sekolah Dasar: Tidak Selalu Fisik, Tapi Melukai
Maraknya kekerasan di sekolah dasar tidak selalu berbentuk pukulan.
Ejekan, pengucilan, pelabelan, hingga intimidasi verbal justru menjadi bentuk yang paling sering terjadi—dan sering tidak terdeteksi.
Guru Besar PAUD Universitas Negeri Jakarta, Prof. Dr. Otib Satibi Hidayat, menegaskan bahwa sekolah dasar adalah fondasi pembentukan karakter bangsa.
“Jika pada fase ini anak kehilangan rasa aman, maka yang rusak bukan hanya prestasi akademik, tetapi masa depan karakter mereka.”
Menurutnya, pendidikan dasar bukan sekadar penyampaian kurikulum, melainkan ruang membangun empati, nilai, dan rasa percaya diri.
Pedagogi Humanis: Memanusiakan Anak, Bukan Menghakimi
Webinar bertema “Membangun Karakter Bangsa dari Sekolah Dasar: Pencegahan dan Penanganan Kekerasan melalui Pedagogi Humanis” ini menekankan perubahan cara pandang.
Kriminolog Universitas Indonesia, Haniva Hasna, mengingatkan bahwa istilah “anak nakal” sering kali hanya label dari orang dewasa.
Ia mencontohkan seorang anak yang memecahkan kaca sekolah. Setelah ditelusuri, tindakan itu bukan agresivitas, melainkan cara meminta perhatian orang tua yang jarang hadir.
“Anak tidak sedang nakal. Mereka sedang menyampaikan pesan,” tegasnya.
Pendekatan pedagogi humanis menempatkan guru bukan sebagai otoritas tunggal, tetapi sebagai pendamping tumbuh kembang anak.

Mengapa Isu Ini Penting bagi Kalimantan Timur?
Pembangunan fisik di Kalimantan Timur terus melaju, termasuk dengan hadirnya Ibu Kota Nusantara (IKN). Namun pembangunan sumber daya manusia tidak boleh tertinggal.
Sekolah dasar adalah titik awal kualitas generasi Kaltim ke depan.
Jika kekerasan verbal dianggap normal, maka yang tumbuh adalah generasi dengan luka psikologis tersembunyi.
Pendidikan yang aman dan bermartabat menjadi pondasi agar anak-anak di Balikpapan, Samarinda, hingga wilayah penyangga IKN tumbuh percaya diri dan siap menghadapi perubahan zaman.
Peran Guru dan Orang Tua di Era Digital
Haniva menyoroti peran media digital sebagai “pengasuh kedua”.
Ketika orang dewasa tidak hadir secara utuh, anak belajar pola perilaku dari lingkungan digital.
Kenakalan dan kekerasan, menurutnya, adalah hasil belajar.
Karena itu, solusi tidak cukup dengan hukuman.
Pendampingan, empati, dan sistem pelaporan yang aman jauh lebih penting.
Komitmen Universitas Terbuka
Webinar yang diselenggarakan PGSD FKIP Universitas Terbuka ini menjadi bagian dari komitmen membekali guru dan calon guru sekolah dasar dengan keterampilan pencegahan kekerasan berbasis kemanusiaan.
Dekan FKIP Universitas Terbuka, Prof. Dr. Ucu Rahayu, menegaskan pentingnya pendidikan dasar yang aman dan bermartabat.
Pendidikan tidak boleh menjadi ruang ketakutan.
Sekolah harus menjadi ruang aman pertama bagi anak.
Membangun Masa Depan dari Ruang Kelas
Membangun karakter bangsa tidak dimulai dari gedung megah atau teknologi canggih.
Ia dimulai dari ruang kelas kecil, ketika seorang guru memilih mendengar daripada menghakimi.
Jika sekolah dasar mampu memanusiakan anak sejak dini, maka Kalimantan Timur tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga membangun generasi yang siap menjaga masa depan daerah. /as
