Universitas Terbuka, Inklusivitas, dan Keberanian Membangun Masa Depan
Penyebarluasan informasi tentang sentra layanan Universitas Terbuka di Banten
Oleh: Zulfikri Anas *)
Demi waktu yang terus berjalan, dia tidak pernah berhenti apalagi menunggu. Karenanya, setiap detik perjalanan hidup adalah kesempatan! Allah telah menghitung segalanya dengan se-teliti-telitianya, tidak ada yang terlewat, dan bagi-Nya tidak ada kekeliruan sedikitpun. Tak terkecuali pada detik ini, tepat pada titik pertemuan antara tahun 2025 dengan tahun 2026 ada sebuah catatan kecil yang mungkin bermanfaat bagi kita. Semoga!
Masa depan bukanlah sesuatu yang kita tunggu, melainkan suasana kita bangun dari detik perdetik waktu berjalan. Demikian antara lain pesan kunci Rektor. Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E.,M.Si. pada apel senin pagi yang lalu. Waktu tak pernah berhenti, di situlah Allah menghargai setiap manusia, dengan menyediakan waktu yang sempit, tanpa jeda, justeru membangkitkan kesadaran bahwa kita tidak boleh terlena. Ini sekaligus mengukuhkan dan memastikan bahwa momentum dan kesempatan itu hanya datang satu kali dalam hidup ini.
Memang tidak salah ketika kita kagum, takjub, dan bangga terhadap sesuatu yang telah kita raih, karena hal itu merupakan salah satu wujud rasa syukur. Juga, sangatlah tidak salah ketika kita menikmati rasa nyaman dari ketakjuban atas yang kita raih itu, namun ketika kita terlena, dibuai kenikmatan, tanpa sadar, kita dibawa ke dalam suasana untuk memaksa waktu melawan kodratnya. Saat itulah, kita sedang menunggu kesia-siaan yang segera datang menghampiri.
Sejarah pendidikan tinggi adalah cerita panjang tentang sejarah “siapa yang boleh belajar dan siapa yang disisihkan”. Masuk dunia pendidikan tinggi menjadi arena kompetisi dan saling menyingkirkan. Semangat saling menyingkirkan jauh lebih dominan daripada semangat membangun berkolaborasi. Kondisi seperti ini tidak hanya di perguruan tinggi, bahkan sejak jenjang awal kita masuk dunia pendidikan juga demikian adanya. Jika ingin mendapatkan sekolah yang bagus apalagi sekolah unggulan, singkirkan dulu orang lain.
Di negeri ini, sudah merupakan hal yang wajar hanya orang yang dianggap pintar dan kuatlah yang berhak mendapat sekolah bagus, bagi mereka masuk kategori tidak mampu akan tersingkir, sekolah hanya menerima yang bersih, bagi yang tersingkir dengan berbagai alasan, silahkan cari sendiri sekolah yang mau menerima murid apa adanya. Sekolah berubah wajah menjadi arena perlombaan dan lembaga penyaring. Sejatinya sekolah itu justeru semakin bermakna kehadirannya ketika ikhlas menerima murid apa adanya.
Pertanyaanya: apakah keunggulan manusia hanya lahir dari sekolah unggulan yang penuh dengan kemewahan sistem, atau bisakah lahir dari ketangguhan jiwa yang ditempa oleh keterbatasan?. Anak unggul tidak harus –dan sering kali justeru tidak– lahir dari sekolah unggulan dalam pengertian elit dan mewah. Sejarah peradaban menunjukkan ironi yang berulang, banyak manusia besar lahir bukan dari kemewahan, tetapi dari keterbatasan. Kemewahan memang mempermudah proses, tetapi tidak selalu memperkuat karakter. Bahkan sering kali ia melunakkan daya juang dalam mengharungi gelombang kehidupan.
Analogi tentang hukum Archimedes sangat tepat. Tekanan tidak selalu menenggelamkan, tekanan justru membangkitkan daya apung. Dalam psikologi dan pendidikan, ini sejalan dengan konsep _desirable difficulties:_ kesulitan justru memperkuat pembelajaran dan ketahanan. Keterbatasan mendorong dan memaksa manusia berpikir kreatif, melatih keberanian mengambil keputusan, menumbuhkan _sense of agency_ (kesadaran bahwa “aku bertanggung jawab atas hidupku”), membentuk identitas sebagai _problem solver_, bukan _problem complainer_. Manusia diciptakan sebagai khalifah _fil ardh_, terlahir sebagai penyelsai masalah, pengelola kompleksitas, bukan penikmat kenyamanan semata. Dunia nyata tidak menyediakan laboratorium steril. Ia penuh ketidakpastian, konflik nilai, dan keterbatasan sumber daya.
Pada masa terentu, pendidikan –apalagi pendidikan tinggi– hanya milik segelintir orang, mereka yang terlahir dengan label sebagai “anak pintar”, di pusat kota, memiliki modal ekonomi, akses teknologi, dan waktu luang. Pendidikan menjadi simbol status, bukan hak dan menjadi alat seleksi sosial, bukan wahana pembebasan dari keterbelakangan, ketertinggalan. Ironisnya, justeru tidak sedikit yang mengalami penurunan sisi humanis sejalan menaiknya jenjang pendidikan yang ditempuh.
Di titik inilah Universitas Terbuka hadir sebagai anomali yang justru bermakna. Sejak awal berdirinya pada 1984, UT membawa misi yang melampaui sekadar inovasi teknologis. Hadir untuk menjangkau yang tidak terjangkau. Bukan hanya secara geografis, tetapi juga secara sosial, ekonomi, budaya, dan psikologis. UT berdiri di atas keyakinan fundamental bahwa setiap manusia memiliki potensi dan kesiapan untuk belajar, sepanjang akses dan kesempatan dibuka. Allah tidak mengenal produk gagal!.
Di era digital dan VUCA (_Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity_), misi ini justru semakin relevan. Dunia berubah cepat, pekerjaan bergeser, teknologi mendisrupsi, dan masa depan tidak lagi linear. Namun di tengah ketidakpastian itu, satu hal tetap konstan: belajar adalah satu-satunya cara manusia bertahan dan berkembang. UT, sebagai perguruan tinggi jarak jauh, tidak sekadar mengikuti perubahan, tetapi menjadi arsitek masa depan pembelajaran. Satu hal yang terpenting, sekaligus menjadi ruh utamanya belajar di UT, yaitu kemandirian dalam belajar.
Kemandirian dalam belajar muncul dari kesadaran bahwa tidak satupun orang lain yang sanggup mengubah diri manusia, kecuali yang bersangkutan. Sejalan dengan kesadaran itu, belajar menjadi kebutuhan sebagaimana kita makan memenuhi kebutuhan dasar untuk bertumbuh dan berkembang. Dalam kaitan ini, belajar bukanlah beban, tetapi sebuah ketagihan yang menantang adrenalin untuk terus dan terus belajar.
Belajar mandiri dengan kesadaran penuh, merupakan pesan inti pendidikan dari tokoh pendidikan kita Ki Hajar Dewantara: olah pikir, olah hati, olah rasa, olah karsa, dan olah ragawi.
Belajar yang memerdekakan, bukan belajar yang membelenggu, dan bukan belajar tersandera oleh pikiran orang lain. Kita butuh pemikiran orang lain sebagai referensi memperkuat daya nalar, membuka cakrawala berpikir, bukan untuk membangun tembok yang akan menyendera pikiran kita sendiri, membangun “mental block” yang membuat kita terkungkung.
Pendidikan Tinggi, Kapitalisme, dan Hilangnya Kebermaknaan
Paulo Freire sejak lama mengingatkan bahaya apa yang ia sebut sebagai “Sekolah Kapitalisme yang Licik”, pendidikan yang secara halus disusupi logika kapitalisme (Freire, 1994). Dalam konteks pendidikan tinggi modern, logika itu tampak jelas: proses akreditasi, peringkat, sitasi, indeks Scopus, target publikasi, dan indikator kinerja yang semakin administratif.
Di satu sisi, standar global memang penting. Namun ketika standar itu menjadi tujuan akhir, bukan alat, pendidikan tinggi kehilangan ruhnya. Penelitian menjadi sekadar produksi artikel, bukan pencarian makna dan solusi. Dosen terjebak pada _compliance_ bukan _curiosity_ Karya ilmiah melimpah, tetapi keterpakaian dan kontribusinya terhadap kehidupan nyata justru menurun. Kebermaknaan tergeser oleh keterukuran.
Bagi UT, tantangan ini menjadi ujian moral sekaligus strategis. Sebagai _open university_, UT tidak boleh terjebak pada imitasi buta terhadap model universitas elit yang eksklusif. _World class Open University_ bukan berarti menyalin logika kapitalisme akademik, melainkan menunjukkan bahwa keunggulan global bisa lahir dari inklusivitas, relevansi, dan keberpihakan pada kemanusiaan.
Goa Kahfi dan Bahaya Terlena
Pada saat memberikan amanat apel pagi beberapa waktu lalu, Rektor UT menyampaikan kisah Goa Kahfi. Pesan tersebut bermakna peringatan yang sangat mendalam. Mereka yang tertidur terlalu lama, meskipun pernah berada di depan, bisa terbangun dalam keadaan tertinggal. UT memang pelopor pendidikan mandiri jarak jauh di Indonesia, bahkan di kawasan. Namun sejarah tidak memberi garansi masa depan.
Di era digital, ketika _platform global, _AI, micro-credential, dan corporate university_ tumbuh cepat, keunggulan historis tidak lagi cukup. Dibutuhkan keberanian untuk terus memperbarui diri. Inilah makna ajakan berpikir “radikal”, berpikir sampai ke akar, bukan sekadar mempercantik permukaan. Untuk melakukan itu, ada empat daya yang ditekankan Rektor menjadi fondasi transformasi: (1) Daya ungkit: keberanian mengubah cara berpikir lama yang sudah nyaman; (2) Daya bangkit: optimisme dewasa yang lahir dari kesadaran, bukan euphoria; (3) Daya dorong: kemampuan menggerakkan orang lain, bukan bekerja sendiri; (4) Daya gerak: keberanian bertindak, karena visi tanpa aksi hanyalah retorika.
Membaca Zaman, Memihak Manusia
Pemikiran para pemikir global memberi lensa penting bagi kita yang menjadi bagian dari civitas academca UT. Yuval Noah Harari (2017) melalui beberapa karyanya, antara lain: 21 Pelajaran untuk Abad 21(2018) , Sapiens: Riwayat Singkat Umat Manusia (2017), Homodeus: Sejarah Masa Depan Manusia (2015) mengingatkan bahwa masa depan manusia ditentukan oleh kemampuan beradaptasi dengan perubahan kognitif dan teknologi. Rutger Bregman (2019) menegaskan bahwa manusia pada dasarnya baik dan kooperatif, pendidikan seharusnya mempercayai potensi itu, bukan mencurigainya.
Daniel H. Pink (2005) menunjukkan bahwa dunia masa depan membutuhkan _high concept_ dan _high touch_, empati, makna, kreativitas bukan sekadar kemampuan teknis. Stillman & Stillman (2017) menjelaskan Generasi Z sebagai generasi yang kritis, _digital-native_, dan mencari autentisitas. Leonardi dan Neeley (2022) menekankan _digital mindset_, teknologi bukan sekadar alat, tetapi cara berpikir baru. Carol Dweck (2000) mengingatkan pentingnya _Growth Mindset_: keyakinan bahwa kemampuan bisa terus berkembang. Alvin Toffler (1970), melalui pemikirannya tentang _Future Shock_ jauh hari memperingatkan kita bahwa yang buta huruf di masa depan bukan yang tidak bisa membaca, tetapi yang tidak mau belajar ulang. Terakhir, Paul Arden (2006), mengajak kita untuk selalu memikirkan sesuatu di balik kelumrahan, “_Whatever You Think, Think the Opposite_”.
Semua pemikiran ini bertemu pada satu titik: pendidikan harus memerdekakan manusia untuk terus belajar. UT berada di posisi strategis untuk mewujudkannya.
Pendidikan sebagai Amanah Kemanusiaan
Pada akhirnya, refleksi ini membawa kita pada keyakinan paling mendasar: pendidikan adalah amanah Ilahiah. Allah menciptakan manusia sebagai makhluk berpikir, merasa, dan belajar. Tidak ada manusia yang diciptakan sia-sia. Setiap orang, dengan segala keterbatasannya, memiliki potensi untuk tumbuh. Sekali lagi, “Allah tidak mengenal produk gagal!.
UT bukan sekadar institusi, tetapi ikhtiar peradaban. Membuka akses bagi mereka yang selama ini tertutup oleh jarak, waktu, ekonomi, usia, dan stigma. Menegaskan bahwa belajar bukan hak istimewa, melainkan hak dasar manusia. Menuju _world class open university_ UT tidak perlu meninggalkan jati dirinya. Justru dengan setia pada inklusivitas, kebermaknaan, dan keberanian berpikir radikal (berpikir dengan akar filosofis yang kuat), yang berbahaya justeru pemikiran yang tidak memiliki akar sehingga cenderung liar dan sulit dikendalikan. UT dapat menunjukkan kepada dunia bahwa pendidikan tinggi yang unggul tidak harus eksklusif dan bahwa masa depan tidak ditunggu, tetapi dibangun bersama, dengan semangat belajar sepanjang hayat.
Sekarang, UT bukan lagi “Perguruan Tinggi Jarak Jauh”, tapi satu-satunya PTN yang paling dekat dengan siapapun, mampu menjangkau yang tak terjangkau, UT sangat dekat, UT hadir sampai ke ruang-ruang sunyi yang penuh lika-liku yang dihindari oleh banyak lembaga pendidikan tinggi lainnya, UT hadir di waktu-waktu orang tidur lelap menikmati mimpi, UT hadir di semua ruang dan waktu…..UT itu “pembelajaran jarak dekat” memyatukan pendidikan dengan tarikan nafas dan denyut nadi setiap insan. Ya, UT itu sangat dekat, sedekat kita dengan hati nurani kita sendiri..Kehadiran UT semakin meyakinkan kita bahwa pendidikan tinggi juga hak asasi dan fitrah ilahiah. Semoga bermanfaat.
Selamat Tahun Baru 2026
Pondok Cabe, 31 Desember 2025
*) Dosen FKiP dan Staf LPPM UT
Read More :
