Category Ad 1

Published 04 Feb 2026, 05:11 PM

Urgensi Kompetensi Guru: Siapkah Kita Mengajar Koding dan Kecerdasan Artifisial?

Pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial: fondasi agar anak-anak Indonesia tidak hanya pengguna teknologi yang pasif, tetapi tumbuh menjadi kreator dan inovator.

“Guru tidak bisa mengajarkan apa yang ia mau. Guru hanya bisa mengajarkan apa yang bisa dan biasa ia lakukan.”—Bung Karno 

Dunia pendidikan Indonesia tengah bersiap mengambil langkah besar. Mulai tahun ajaran 2025/2026, materi koding dan Kecerdasan Artifisial (KA) secara resmi terintegrasi ke dalam kurikulum nasional. Kebijakan ini memiliki makna strategis: kita sedang meletakkan fondasi agar anak-anak Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi yang pasif, tetapi tumbuh menjadi kreator dan inovator di panggung dunia digital.

Namun, di balik visi besar tersebut, sebuah pertanyaan besar membayangi: Siapkah kita (guru) menjadi jembatan bagi mereka?

Kita tentu sepakat, guru adalah jantung dari transformasi ini. Namun, merujuk naskah akademik Badan Standar Kurikulum Asesmen dan Pendidikan Kementerian Dasar dan Menengah (2025) data menunjukkan tantangan kompetensi masih nyata. Bahkan di negara maju seperti Singapura, kecepatan teknologi sering kali melampaui kesiapan guru (UNESCO, 2023). Di Indonesia, laporan UNICEF (2020) mencatat 67% guru sempat terkendala operasional perangkat digital saat pandemi.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa belum semua sekolah memiliki guru dengan kompetensi dasar sebagai pengajar koding dan KA. Dalam konteks ini, kurangnya pelatihan guru dalam pemanfaatan teknologi pembelajaran yang efektif, turut memengaruhi munculnya tantangan ini  (UNESCO, 2023).

Padahal, koding dan KA memerlukan kompetensi yang lebih dalam daripada sekadar menggunakan aplikasi. Karena itulah, pemenuhan guru yang kompeten bukan lagi sebuah pilihan, melainkan sebuah kebutuhan  nasional. Tanpa guru yang siap, visi mencetak generasi kreator hanya akan menjadi angan-angan di atas kertas.

Menumbuhkan Growth Mindset

Peningkatan kompetensi guru ini makin perlu menjadi perhatian ketika sebagian besar guru belum memiliki pola pikir berkembang dan terbuka terhadap perubahan sehingga menghambat proses peningkatan kapasitas mereka. 

Kita harus jujur bahwa beban administrasi dan keterbatasan waktu sering kali membuat “belajar mandiri” terasa berat. Studi Pratiwi & Utama (2024) menyoroti bagaimana rendahnya praktik self-directed learning menjadi penghambat utama. Dalam konteks perubahan kurikulum, misalnya, menurut studi ini, salah satu kendala yang dihadapi adalah rendahnya motivasi belajar guru sehingga praktik belajar mandiri (self-directed learning) tidak berkembang. 

Namun demikian, mari kita coba lihat dari sudut pandang baru. Koding dan KA bukan hanya milik guru teknologi informasi. Ini adalah bahasa baru untuk semua disiplin ilmu:

  • Guru Bahasa bisa menggunakan logika coding untuk membedah struktur narasi.
  • Guru Matematika bisa menggunakan KA untuk memvisualisasikan data kompleks.
  • Guru Seni bisa mengeksplorasi kreativitas melalui algoritma generatif.

Jadi, masalah utama kita bukanlah pada canggihnya alat, melainkan pada pola pikir. Kompetensi teknis bisa dilatih, namun growth mindset harus ditumbuhkan.

Seorang guru yang inspiratif bukan lagi mereka yang memiliki semua jawaban, melainkan mereka yang berani menunjukkan cara belajar di tengah ketidaktahuan. Saat kita belajar koding bersama siswa, kita sedang mencontohkan nilai kejujuran, kegigihan, dan keberanian untuk mencoba—kualitas utama seorang inovator.

Implementasi koding dan KA bukan sekadar urusan teknis, ini adalah urusan membangun martabat bangsa. Dengan guru yang kompeten dan bersemangat, kita tidak hanya mengajar anak-anak cara menggunakan komputer, kita sedang melatih calon pemimpin yang akan membentuk masa depan dunia.Karenanya mulai saat iini, Bapak dan Ibu Guru, mari kita tanggalkan predikat “serba tahu” dan sematkan pada dada, kita sebagai “pembelajar”. Yakinlah di tangan kita, pembelajaran teknologi akan menemukan jiwanya.

Sumber: Nasmik Pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial BSKAP dan berbagai sumber. Foto: IST

Leave a comment