Ketika AI Bikin Siswa SMA Malas Belajar, Sekolah di Serang Ini Memilih Jalan Berbeda
Kegiatan Jelajah Teknologi Masa depan. Kerjasama SMA Bina Putera Kopo, Serang banten dengan BRAIN IPB University.
Kepintaran AI, membuat sebagian siswa SMA mulai mempertanyakan arti belajar. Jika semua jawaban bisa dicari lewat ponsel, untuk apa bersusah payah di kelas? Fenomena ini nyata dirasakan SMA Bina Putera, Kabupaten Serang. Alih-alih melarang teknologi, sekolah ini justru mengajak siswa memahami dan menguasainya.

Ketika Ponsel dan AI Menggerus Semangat Belajar
Semangat belajar di ruang kelas terasa makin menurun. Gejala itu muncul perlahan tapi kian tampak. Siswa lebih cepat mencari jawaban lewat gawai ketimbang berpikir sendiri. Motivasi belajar menurun, diskusi menjadi pasif. Bagi sebagian pelajar, teknologi bukan lagi alat bantu, melainkan jalan pintas.
Kepala SMA Bina Putera, Dirjo, menyebut teknologi tak mungkin dibendung. “Yang harus diperkuat adalah kemampuan anak-anak memahami dan menggunakan teknologi secara benar,” ujarnya.
Kolaborasi Sekolah dan Akademisi Hadapi Tantangan AI
Untuk menjawab tantangan itu, SMA Bina Putera bekerja sama dengan BRAIN IPB University—lembaga yang fokus pada pengembangan Blockchain, Robotics, dan Artificial Intelligence Network. Kolaborasi ini diwujudkan lewat kegiatan edukasi teknologi yang menyasar langsung siswa.
Pada 15 Januari 2026, sekitar 100 siswa mengikuti kegiatan bertajuk “Jelajah Teknologi Masa Depan: Bekal Generasi Digital Menguasai Dunia”. Suasana dibuat cair, jauh dari kesan ceramah, agar siswa benar-benar terlibat.
Tanpa Bahasa Rumit Prof. Dr. Ir. Yandra Arkeman, M.Eng, pimpinan BRAIN, berdialog langsung dengan siswa mengenai teknologi yang selama ini mereka dengar, tetapi jarang dipahami secara utuh. Blockchain, robotika, dan kecerdasan buatan dibahas lewat contoh penggunaan sehari-hari—bukan teori abstrak.
Sejumlah dosen dari berbagai perguruan tinggi turut terlibat, memperlihatkan bahwa teknologi bukan sekadar tren, melainkan keterampilan masa depan yang perlu dikuasai secara sadar dan bertanggung jawab.
AI Bukan Musuh, Tapi Ujian Bagi Diri Sendiri
Bagi Rejha Alamsyah, siswa kelas XII, kegiatan ini membuka sudut pandang baru. “AI memang membantu belajar, tapi kalau terlalu sering dipakai, itu sama saja meremehkan kemampuan diri sendiri,” katanya. Sri Wulandari, siswi kelas X, justru tertarik mendalami algoritma dan coding. Sementara Zulfa mengaku semakin termotivasi belajar karena merasa tertantang dengan cepatnya perkembangan teknologi.
Fawwaz, siswa kelas XI, masih menyimpan rasa penasaran. “Saya ingin tahu lebih jauh soal blockchain dan aset digital. Kegiatannya terasa terlalu singkat,” ujarnya.

Pendidikan Digital sebagai Bekal Masa Depan
Menurut Prof. Yandra, BRAIN tidak hanya mendorong pemanfaatan positif teknologi, tetapi juga mengedukasi dampak negatifnya. Tujuannya agar generasi muda tidak sekadar menjadi pengguna, melainkan pengendali teknologi.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa masalah menurunnya minat belajar bukan semata soal disiplin, tetapi perubahan zaman. Ketika teknologi berkembang cepat, pendidikan dituntut ikut beradaptasi—tanpa kehilangan nilai berpikir kritis.
Apa yang dilakukan SMA Bina Putera memberi gambaran bahwa tantangan AI dalam pendidikan tidak harus dijawab dengan larangan. Dengan pendampingan dan pemahaman yang tepat, teknologi justru bisa menjadi pintu bagi lahirnya generasi digital yang sadar, kritis, dan siap menghadapi masa depan. (pw)
Read More :
